NOVEL SEMBURAT MERAH DI ATAS SABANA SUMBA

 SEMBURAT  MERAH DI ATAS SABANA SUMBA



BAB I
Matanya melirik takut ke kiri dan ke kanan, di antara desau angin senja yang sepi, dia bisa merasakan  kalau dia tidak sendiri di padang itu. Bukan saat ini saja, tapi sejak ia meninggalkan kampungnya, suara tapak kaki kuda dari kejauhan seperti sedang mengikutinya, Ia berlari sekuat yang ia mampu, tak dipedulikannya tajam rumput ilalang kering menusuk kakinya yang tak beralas. Langit di atas padang sabana Sumba berwarna merah tanah seperti warna sarungnya, pertanda sebentar lagi hari akan menggelap, ia harus lebih cepat sampai kekampung.
Dia sadar bukan karena suara itu saja sumber dari rasa takutnya.Tapi ia juga takut kemarahan nyonyanya Rambu Piras akan keterlambatannya, mereka tak pernah perduli seberapa jauh jarak yang harus ia tempuh atau seberapa lelahnya dia, ia harus tetap kembali secepat mungkin. Dia memegang erat kareranya, tas Sumba dari anyaman pandan pemberiaan neneknya, di dalamnya terbungkus sirih, pinang dan kapur dalam daun keladi. kegemaran Rambu Roku putri kesayangan Rambu Piras tuannya.Sudah dua hari ini mereka kehabisan sirih pinang, daun sirih di pohon – pohon kampungnya tergantung mengering akibat musim kemarau yang panjang hanya pinanglah yang masih mereka miliki, tapi dua hari yang lalu Reku adiknya yang biasa memetik pinang  jatuh dari pohon ketika harus memetik kelapa.Sejak adiknya sakit itulah dia harus memikul lebih banyak tanggung jawab, termasuk harus pergi ke kampung sebelah untuk meminta sirih pinang kegemaran Rambu Roku.
Dia terlahir sebagai putri dari keluarga budak di Anakalang Sumba, sejak dari ia mengenal kehidupan, yang diketahuinya hanya bekerja melayani keluarga tuannya. Dalam hidupnya ia tidak mengenal kata tidak, semua kata tuannya adalah perintah, dan Ia menganggap sebagai suatu kehormatan bisa melayani keluarga itu. Saat ia masih sangat kecil ia sudah harus mengurus Rambu Roku putri tuannya yang seumur dengannya, tak terhitung air mata iri yang dihapusnya diam – diam karena begitu inginnya Ia bermain, tapi semua itu hanya mimpi baginya, Ia tahu sebuah kesalahan akan berbuah lecutan, tak terhitung berapa kali tubuhnya dirajam oleh tali kuda, karena itu semua mimpi dan keinginannya dikuburnya dalam – dalam, dalam jiwanya.Ia hanya harus melayani tuannya itu saja, dan mengabdi dengan seluruh jiwanya.
Dengan cepat ia melangkahkan kakinya yang tak beralas, sakitnya karena irisan ilalang tak tertahankan, sarungnya beberapa kali harus dipasangi lagi karena hampir terlepas dari pinggangnya, rambutnya yang tak terurus, berkibar – kibar diterpa angin senja yang mulai menggelap. “Sudah sampai” bisiknya lirih pada dirinya sendiri, ketika melihat cahaya lampu pelita dari rumah tuannya.
Umbu Djati putra tertua tuannya muncul tiba – tiba dari depan rumahnya, wajahnya yang tampan memerah karena marah tak urung rasa takutnya menjadi –jadi, ia membayangkan sakitnya lecutan yang akan segera di dapatnya dari Rambu Piras Ibu Umbu Djati. Tubuhnya bergetar karena takut, Umbu Djati juga bisa melecutinya kalau saja dia mau, walau tak pernah sekalipun dia melakukannya.
“Darimana saja kamu?”Tanya Umbu Djati dengan nada marah.
“Dari meminta sirih pinang untuk Rambu Roku, Ubbu” Jawabnya sambil menunduk, ia tak berani memandangi wajah tuannya, hanya Umbu Djatilah satu – satunya orang di keluarga tuannya yang tak pernah mengasarinya, Ia anak Rambu Piras yang tertua, sejak di tinggal oleh ayah mereka, Umbu Djatilah yang menjadi pengganti Ayahnya.Ia sangat bijak, sehingga bukan saja menjadi kebanggaan Rambu Piras tapi juga Kampungnya.Dia selalu menjadi pembicara dalam adat – istiadat di kampung mereka, Ia juga sangat tampan berbeda dari keluarga – keluarga bangsawan lainnya, ayahnya pernah bercerita bahwa mereka para budak dikaruniai wajah bangsawan tapi para bangsawan dikaruniai wajah budak, tapi Umbu Djati tidaklah demikian ia juga tampan selayaknya seorang bangsawan. Suara teguran Umbu Djati mengagetkan lamunannya, Inilah pertama kalinya setelah ia berumur 19 tahun ia mendengar nada keras itu keluar dari mulut Umbu Djati.
“Mungkin Ia sudah menyadari apa statusku dan statusnya” bisik hatinya perih, merasakan kehilangan harapan bahwa masih akan ada orang yang akan menghargainya.
“Kau membuatku kuatir, Rambu Roku itu maunya hanya dituruti, kalau dia mau kenapa tak dicarinya sendiri saja.” Teriaknya marah.
“Maafkan saya Ubbu, saya tidak bermaksud membuat semua kuatir” bisiknya perlahan, meminta maaf menyembunyikan rasa terkejut mendengar pembelaan Umbu Djati, apalagi setelah melihat keterkejutan di wajah Umbu Djati menyadari kata – katanya sendiri.
 Rasa senang namun sekaligus malu tak bisa hilang dari bibirnya bahkan saat ia pergi tidur. kata – kata Umbu Djati, wajah Umbu Djati yang terkejut dengan ucapannya sendiri memenuhi benaknya, rasa lelahnya dan sakit akan luka – luka di kakinya tiba - tiba tak terasa lagi.

BAB II
Rasa leganya begitu besar saat gadis itu pergi meninggalkannya.Ia tak bisa menahan perasaannya di depan gadis itu, ia sadar itu terlarang. Ia mengenal perasaannya akhir – akhir ini bahwa Ia jatuh cinta pada budaknya, saat mereka kecil ia selalu berusaha menjahilinya, ia sering menarik sarung gadis itu sampai gadis itu jatuh.Ia juga sering mengagetkannya dari balik semak – semak, saat dia pulang dari mencari kayu bakar, tapi sekarang dia tidak mengerti apa yang terjadi dengan perasaannya, dan semua itu semakin kuat saat dia melihat bahwa dia tumbuh menjadi wanita dewasa, dan menjadi sangat cantik. Tubuhnya yang tak mengenal istirahat seolah diukir pemahat, wajahnya yang kadang dipenuhi peluh dan arang dapur seperti dilukis malaikat, hampir semua pemuda di kampungnya selalu menunggu di depan rumah mereka saat pagi hari atau senja hari saat gadis itu selesai mandi dan lewat sambil menjunjung tempayan air di kepalanya yang basah. Ia hampir tak bercela, namun bukan itu yang diperdulikannya, yang dicemburuinya adalah para budak – budak laki –laki, tak ada yang melarang mereka jika ingin mengambil gadis itu sebagai istri, sedangkan mereka kaum bangsawan dianggap aib jika mengambil istri atau suami dari kalangan budak, seumur hidup  mereka harus menanggung aib,  keluar dari kaumnya.
Ia tahu apa saja bisa terjadi dengan gadis itu ketika gadis itu pergi, pria – pria dari kalangan budak yang menyukainya bisa melarikannya kerumah mereka kapan saja, dan sebagai lelaki yang dituakan mau tak mau ia yang harus mengurus adatnya, dan ia tak mau itu terjadi.
Di Anakalang kampungnya, mereka memiliki adat menculik perempuan, itu bisa terjadi jika laki – laki tak punya cukup hewan sebagai belis atau pembayaran adat, atau karena sang perempuan menolak padahal keluarganya setuju. Perempuan bisa diculik dan dilarikan ke keluarga lelaki, para utusanlah yang kemudian akan mengabarkan kepada keluarga wanita bahwa perempuan itu telah ada bersama mereka, gong dan tambur akan dipukul di rumah keluarga lelaki sebagai tanda sukacita mereka karena telah berhasil membawa wanita tersebut.
Karena adat itulah saat gadis itu pergi meminta sirih pinang di Kampung tetangganya, Ia mengikutinya dengan diam – diam dengan kudanya dari jauh. Sudah beberapa hari ini dia mendengar bisikan – bisikan di kalangan para budak, bahwa seorang budak laki – laki dari kampung sebelah sudah mulai menyiapkan beberapa kuda sebagai pembayaran adat untuk melarikan gadis itu. Ia beberapa kali hampir turun dari kudanya saat melihat gadis itu hampir jatuh ketika berlari, ia marah pada dirinya sendiri karena begitu takut kehilangan gadis itu, ia sadar ia tak bisa menjaganya setiap waktu. Orang –orang di Kampungnya pasti akan tahu, jika ia terus mengikuti gadis itu, karena tak ada yang bisa menjadi rahasia di kampungnya.
Ia tak ingin gadis itu keluar dari rumahnya, karena itu ia begitu marah begitu tahu gadis itu pergi ke kampung sebelah. Sekarang setelah gadis itu kembali dengan selamat, ia sudah merancang 1001 pekerjaan yang harus dikerjakan gadis itu di rumahnya tanpa perlu dia meninggalkan rumah.

BAB III

Kokok ayam jantan dari kandang disamping dinding kamarnya membuatnya terbangun.Dinginnya pagi bulan Juni menerobos belahan – belahan bambu bulat dinding kamarnya, ia masih ingin tidur, semalam tidurnya tak cukup nyenyak padahal tubuhnya sudah sangat lelah, ia tak bisa menghilangkan ingatan tentang sikap Umbu Djati yang membelanya.
“Aya, bangun, hari ini Umbu minta kopinya harus lebih pagi, cepatlah ambil kayunya di luar.”
Nama itu membuat ia cepat – cepat turun dari tempat tidurnya. Langit masih gelap, suara kokok ayam dan suara –suara kesibukan dari dapur saja yang menandakan bahwa hari sudahlah pagi, dan ia berlari – lari ke bawah dapur mencari kayu –kayu yang sudah dikumpulkannya beberapa hari yang lalu, namun saat ia mengangkat  kepalanya, di *anakajaka bangku di depan rumah, dekat pelita yang hampir – hampir padam diterpa angin pagi, ia melihat Umbu Djati duduk sambil memandanginya dengan mata penuh kesedihan, ia tak bisa bergerak dalam tatapan itu, ia tersadar saat mendengar suara ibunya meminta kayu bakar, tapi saat dia membalikkan badan dia masih merasakan pandangan Umbu Djati padanya. Ia merasa sesuatu seperti merobek hatinya, “apakah Umbu Djati tidak tidur?” tanyanya dalam hati saat ia meniup kayu yang mulai terbakar. “Aya, ayo bawa kopi ini untuk Umbu Djati, sejak semalam Ia belumlah tidur, entah masalah apa yang di pikirnya, pAyantah ibunya, tak memperhatikan keterkejutannya akan cAyata ibunya.
Ia berdiri cukup lama di belakang umbu Djati, ingin sekali memandang figurenya lebih lama, tapi kopinya akan keburu dingin.Ia meletakkan kopi itu di samping Umbu Djati perlahan – lahan tidak ingin membangunkan lamunan Umbu Djati, namun saat dia berbalik suara Umbu Djati menghentikan langkahnya,”Kau tidak boleh kemana –mana Aya, hanya jika aku yang menyuruh barulah kau boleh pergi, beberapa minggu ini aku ingin kau bekerja dirumah saja, jika kau ingin keluar, kau harus meminta ijin dariku, kau dengar itu Aya?” Ucapan tegas tak ingin di bantah mengagetkannya.
“Ia Ubbu, “jawabnya sambil beranjak walaupun hatinya dipenuhi banyak pertanyaan. Ini pertama kalinya Umbu Djati memeriantahnya demikian dan ia tahu tak akan ada seorangpun yang akan berani membantah perintahnya, bahkan ibunya sendiri, Rambu Piras. Pekerjaannya lalu hampir tak ada habisnya, selama beberapa hari kemudian, Umbu Djati membAyanya begitu banyak pekerjaan di rumah.Namun itu semua tak diperdulikannya, yang diherankannya tak sekejabpun Umbu Djati  meninggalkan rumah, padahal sudah menjadi kebiasaan tuannya untuk setiap sore hari, sekembalinya dari pekerjaannya mengawasi budak – budak yang lain bekerja di sawah dan ladangnya, dia akan mengunjungi  teman – temannya atau para tetua dikampungnya.  Namun sudah beberapa waktu lamanya, ia hanya tinggal di rumah, mengasah parangnya, tak diperdulikannya undangan adat dari tetangga mereka. Ibunya Rambu Piras tak urung kuatir, tapi tak ada yang berani menanyakan kenapa, mereka semua berusaha membuatnya senang berada di rumah. Apalagi dia, Aya senang Umbu Djati tak kemana – kemana, ia tahu semua wanita bangsawan selalu menunggu – nunggu kedatangan Umbu Djati. Mereka selalu berusaha menarik perhatiannya. Dulu, saat Ia ke pesta bersama –sama Rambu Piras nyonyanya karena harus menjunjung nasi dalam bola nasi, anyaman pandan tempat nasi,  bawaan mereka untuk tuan pesta, Ia melihat wanita –wanita itu dengan sarung ikat yang cantik, mamuli emas yang berkilau tergantung di  kalung anahida mereka memandang Umbu Djati dengan malu –malu.Tak sedikit Ia mendengar bahasa dari para orang tua yang ingin anak mereka untuk dinikahkan dengan Umbu Djati, apalagi semua orang tahu berapa banyak hewan di kandang keluarga Rambu Piras. Kuda, kerbau, babi dan sapinya tak terhitung banyaknya.Tak sulit buat Umbu Djati dengan kekayaannyauntuk membayar biaya belis adat jika ingin mengambil wanita bangsawan.
“Aya, bawakan aku air dalam tempayan, parang ini harus di bersihkan lagi,” tAyaak Umbu Djati  yang sedang  membersihkan parangnya, menghentikan lamunannya.
“ia Ubbu, saya akan ke sumur sebentar untuk mengambil airnya. Air dalam tempayan habis untuk memasak pagi ini. “Ujarnya terburu – buru sambil mengambil tempayan.
“Tidak”, pegangan tangan yang begitu kuat, tiba – tiba mencengkram  lengannya membuatnya menangis, “Sudah ku katakan kau tidak boleh kemana –mana bahkan kalau airnya habis. Suruh Reku mengambilnya untukku, kau tinggal saja di rumah bekerja.” Perintahnya sambil melepaskan tangannya.
“Ia Ubbu,” jawabnya sambil cepat beranjak ke dapur menyuruh  Reku, adiknya.
“Mama, Umbu tak mengizinkan saya kemana – mana, diapun tak pergi kemana – mana, ini sudah hampir 3 minggu tapi dia hanya dirumah saja, diapun tak ke sawah memeriksa padi yang hampir dituai, padahal tak pernah sekalipun dia tak pergi ke sawah selama ini,” lapornya pada Ibunya, sambil menyentuh tangannya yang dipegangi Umbu Djati. Tidak ingin rasa itu pergi cepat.
“Aya, jangan pikirkan hal yang bukan urusanmu, kerjakan saja apa yang jadi tugasmu, mungkin dia sedang ingin bersenang –senang karena tahun ini lumbungnya penuh, hewan – hewan di kandangnyapun beranak pinak dengan banyaknya jawab ibunya menghalau kekuatirannya. Ia takut  pada apa yang dilihatnya dalam mata Umbu Djati ketika memandang  anaknya Aya, mata laki –laki yang ingin memiliki anaknya, Ia sangat takut jika Rambu Piras juga menangkap pandangan Umbu Djati itu, sebagai Ibu ia tahu hal itu, bukan sekali dua kali dilihatnya tatapan Umbu Djati yang begitu kuat pada Aya. Ia juga tahu alasan Umbu Djati melarang Aya keluar, Ia takut para pemuda budak akan melarikan Aya, dia sedih melihat kesedihan dalam mata Umbu Djati, Ia sudah membesarkan Umbu Djati sejak masa kecilnya, sebagai budak ia mengasihi Umbu Djati seperti anaknya sendiri. kesedihan Umbu Djati adalah kesedihannya juga, namun yang tak pernah dibayangkannya bahwa Umbu Djati akan menaruh hati pada Aya anak perempuannya sendiri. Ia tahu bahwa jika Umbu Djati tak bisa menahan perasaannya maka masalah akan menimpa keluarganya, ia dan keluarganya pasti akan diusir dari rumah itu, sedangkan mereka tidak punya apa –apa untuk bertahan hidup. Ditutupnya matanya, berdoa semoga Mori Jesus, Tuhan yang diajarkan pendeta Belanda itu akan menolong keluarganya.

BAB IV
Langit berwarna jingga, burung – burung beterbangan pulang ke sarang, sudah mulai gelap saat Umbu Djati tertatih – tatih pulang ke rumah, kakinya terkena bambu tajam saat ia terjatuh di jurang saat berburu babi hutan, darahnya tak berhenti menetes. Ia hampir pingsan saat tubuhnya mencapai rumah. Rambu Piras sedang pergi dengan Rambu Roku ke Keluarga mereka di kampung lain. Ia tak sadar berhari – hari lamanya, saat ia terbangun, dilihatnya Aya tertidur di tikar di bawah tempat tidurnya, wajahnya yang pulas tergambar begitu indah, ia ingin membangunkannya, namun  hatinya berkata lain, dengan berat dia mengangkat tubuhnya ia turun ke lantai, bunyi derik Lantai bamboo rumahnya seperti melawannya, ia melawan pAyantah otaknya.
“Oh Ubbu?” Seru Aya terbangun, menyadari  Umbu Djati sudah sadar
“Jangan bangun Aya, aku tidak apa – apa, isirahatlah,” Perintahnya.
“Oh, Ubbu, maafkan saya Ubbu, saya akan mengambil air untuk Ubbu, mungkin Ubbu haus, Ubbu mau makan?” tanyanya bertubi – tubi, menyadari kekhilafannya.
“Ya, aku haus, Aya.” Jawabnya lemah.
Setelah meminum air ia merasa tubuhnya pulih. “Saya akan akan mengambil makanan untuk Ubbu, sudah beberapa hari Ubbu tidak makan,”Ujarnya setelah melihat wajah Umbu Djati perlahan – lahan mulai membaik. “Tidak, kau disini saja, tunggulah sampai besok pagi, saya ingin tidur saja.” Perintahnya dan jatuh tertidur kembali karena sakitnya.
Ia bangun dengan segar beberapa hari berikutnya, Aya merawatnya dengan penuh kasih, sekarang dia bahkan sudah bisa berjalan walaupun masih tertatih - tatih.
“Dimana Aya, Ina?Tanyanya menjenguk Ibu Aya yang sedang memasak di dapur.
“Sudah dari tadi dia ke sungai untuk mandi tapi belum juga kembali, kalau ubbu ingin sesuatu biarlah saya ambilkan.” Jawabnya pada Umbu Djati.
“Tidak Inna, tapi matahari sudah tinggi sekarang bukankah dia seharusnya sudah pulang.”Ucapnya kuatir.
“Oh, itu dia Umbu, sudah datang.”Jawab ibu Aya sambil menunjuk ke ujung jalan.
Setelah Aya menyimpan tempayannya di dapur ditariknya gadis itu kedalam rumah, “kalau kau ingin pergi keluar beritahukan padaku, aku tidak ingin membiarkan ada seseorangpun yang mengganggumu, aku akan membunuh mereka, jika ada yang menyentuh kulitmu.” Ucapnya marah.
Maafkan saya ubbu, saya masih harus mencuci baju, saya tidak ingin mengganggu tidur ubu tadi.” ucapnya malu dengan perhatian dan kasih yang didapatnya.
Hampir sebulan kini, dan memandang Aya saja Ia sudah merasa puas, ia sudah mengambil keputusan didalam hatinya, yang dipikirkannyalah sekarang adalah membicarakannya dengan ibunya untuk mengambil Aya sebagai istri, Ia tak mampu lagi menahan perasaannya terhadap Aya. Ia tahu bahwa Ia harus sudah siap melangkah ke atas api, bukan hanya ibunya akan menjadi lawannya tapi kaumnya, sudah dibicarakannya hal ini dengan pendeta Belanda di Gerejanya siang ini, dan Mr. Veernaant bahkan berjanji akan mendoakan keinginannya.

BAB V

Ia terkejut beberapa tua adat yang dikenalnya dari kampung sebelah duduk di *talora rumahnya saat ia kembali dari melihat sawahnya sedang makan sirih dengan Ibunya, wajah Ibunya yang tersenyum membuat ia berpikir, pasti para tua – tua adat mengundangnya lagi untuk menyelesaikan masalah, sempat didengarnya sayup – sayup bunyi tetabuhan gong dari sawah, itu mungkin karena ada dukacita atau juga sukacita.Jika ada hal yang terjadi di kampungnya orang – orang akan menabuh gong, sebagai tanda, sehingga orang –orang dari kejauhan akan datang, Ibunya sangat bangga dengan undangan dari para tua- tua, tak mudah memang bagi seorang pemuda sepertinya untuk duduk di tikar adat.
“Sudah datang rupanya, kami menunggu sejak tadi.” Ucap seorang tua adat menyambutnya sambil memberikan kalekunya yang berisi sirih pinang.
“Ada berita apa, jauh – jauh datang kemari.”Tanyanya tak mau berbasa – basi.
“Kami datang untuk hal yang baik, anak kami sudah memetik sekuntum mawar dari rumah ini, kami datang untuk membAya tahu kami siap untuk mengurus adat, “Ucap mereka memulai pembicaraan membuatnya tersenyum mengingat adiknya Rambu Roku.Tak dibayangkan si anak manja itu dibawa lari pemuda.
“Rambu Roku, adalah mawar yang kami jaga dengan baik, anak siapakah pemuda yang telah membawanya? Jawabnya.
“Bukanlah Rambu Roku, tapi Aya, Umbu” jawab Ibunya tiba – tiba, menyesakkan jiwa dan napasnya. Mendengar ucapan Ibunya, tanpa ditahan –tahannya, bersegera Ia berlari kebelakang rumahnya tak diperdulikannya ibunya dan para tua –tua yang terheran – heran  menatapnya, diambilnya kuda terbaiknya, parangnya sudah tergantung di pinggangnya, jika mereka menyentuh Ayanya berarti mereka minta mati, teriaknya dalam hati, kemarahannya tak bisa di tahannya.
“Ubbu, Ubbu…” sebuah teriakkan dari semak – semak menghentikannya dalam perjalanan memasuki kampung tetangganya.Tiba – tiba saja gadis yang dicarinya keluar dari semak – semak dengan bercucuran air mata. Ia tampak sangat ketakutan, “Apa yang terjadi denganmu?’’ teriaknya hampir tak tertahankan, sambil melompat dari kuda.
“Mereka melarikan saya saat saya mau ke sungai Ubbu, Ubbu biarkanlah saya pergi sekarang, mereka tidak tahu kalau saya berhasil pergi, saya tidak ingin kembali kesana, janganlah Ubbu mengawinkan saya dengan mereka.
“Hanya bila aku mati baru kau kulepaskan, kau dengar? Cepat kau ke Gereja sekarang! Perintahnya, “aku akan pergi ke kampung laki – laki itu.” Janganlah kau kemana – kemana,sekarang aku akan menyelesaikan tugasku dengan budak yang melarikanmu itu, bahwa aku telah mengambilmu kembali, jika dia tidak bersedia akan kubakar rumah tuannyaatau akan kubakar kampungnya, lihat saja. Teriaknya Marah.
“Tapi Ubbu,”
“Tidak Aya, pergilah ke gereja sekarang, dan tunggu aku disana.”
Di kampung adat Ia segera menuju rumah yang sedang ramai dipenuhi orang, yang berpesta karena telah berhasil membawa lari seorang gadis, orang – orang tak tahu kalau wanita yang mereka larikan sudah lama pergi, gong ditabuh makin keras, mengundang orang – orang untuk datang, sirih pinang diedarkan pada para tamu yang telah datang. Kedatangannya mengejutkan mereka, itu pertanda tak baik, karena parapenatua adat belum juga kembali tapi Umbu Djatti sudah datang terlebih dahulu, gong segera dihentikan, mereka cepat – cepat memberikan sirih pinang untuk menyambutnya, tapi segera ditampiknya. “Saya datang untuk menyampaikan bahwa saya sudah membawa Aya kembali.” Ucapnya tegas membuat beberapa perempuan berlari – lari memeriksa kamar yang didapati mereka sudah kosong melompong.
Keriuhanpun terjadi saat mereka tahu bahwa gadis yang mereka larikan itu sudah tidak ada lagi. Pemuda yang melarikan Aya, hanya seorang budak karena itu tak sedikitpun dia berani mengangkat kepalanya, hanya tuannyalah yang berbicara.
“Duduklah dulu Umbu Djati, dan terimalah sekapur sirih dari kami, jika Umbu tak mengijinkan kami mengambil *alas kaki Umbu, tidaklah kami akan mengambilnya, jadi tak perlulah Umbu marah, terimalah 2 lembar kain dan seekor kuda dari kami sebagai permintaan maaf kami jika memang demikian, tapi ijinkanlah kami mengetahui alasan Umbu datang untuk mengambilnya kembali, apakah sudah ada pemuda lain yang telah lebih dulu mengikatnya?”Tanya tuan rumah itu yang mengenal Umbu Djatti dengan baik, sebab mereka sering bertemu dalam beberapa kali pertemuan adat.
“Ya, akulah pemuda itu,”Ucapnya tegas.
Jawabannya membuat keriuhan di antara orang –orang, namun tidak ada yang berani berbicara sampai setelah ia membalikkan kudanya meninggalkan keriuhan itu.
Ia tahu sekarang, apinya sudah mulai menyala, sebentar lagi semua orang akan tahu, Ibunya, keluarganya, Kampungnya, Semuanya. Ia memacu kudanya kencang – kencang ke gereja, Ia harus mengambil Aya sebagai istrinya, ia akan menyampaikan pada ibunya, ia takkan mundur.
Ia berhenti saat melihat pdt. Vandeerhart di jalan yang akan dilaluinya.
“Pendeta, apakah Aya ada di Gereja, saya menyuruhnya kesana?”Tanyanya sambil turun dari kuda.
“Kita akan ke Gereja dan membicarakan ini Umbu,” jawabnya sambil melangkah ke gereja.
Saat tiba dilihatnya Gereja kecil itu kosong, sekosong hatinya, tanpa menunggu penjelasan pendeta, dia menuju ke pastori tempat Pendeta, tapi tak dilihatnya juga Aya disana, Ia mengelilingi Gereja itu, tapi tak dilihatnya gadis itu.
Tatapan sedih dari biru mata Pendeta Belanda itu seolah – olah mengiris hatinya, Ia tidak punya cukup kekuatan untuk bertanya, ia hanya terduduk di kursi kayu gereja mendengarkan pendeta Vandeerhart bercerita,”Aya datang padaku dan bercerita segalanya padaku, takku bayangkan akan seperti ini, aku berdoa untuknya dan memintanya untuk tinggal sampai kau datang, tapi beberapa waktu sebelum kau datang Ibunya datang menjemputnya disini, Ibunya tak bilang akan pergi kemana, tapi mereka membawa kuda, sepertinya untuk perjalanan jauh, aku tak bisa menahan mereka jadi kulepaskan mereka.”
Penjelasan Pendeta Belanda itu, mematahkan hatinya, Aya belumlah tahu bahwa Ia menaruh hatinya pada gadis itu, dan sekarang saat Ia hendak mempersuntingnya gadis itu dibawa pergi kedua kalinya dari hidupnya.
Sepanjang hari itu dipacunya kudanya, ia mengelilingi padang – padang sejauh yang diketahuinya, tapi padang yang kering dan panas menelan jejak gadisnya tanpa sayang, di batas kampung mereka, ia berteriak sekeras – kerasnya, menangis sekuat ia mampu, mengeluarkan semua lara dihatinya. Saat kembali ke kampung didapatinya Ibunya yang marah dan menangis,malu karena pengakuannya di kampung sebelah dan marah karena perginya Aya dan keluarganya tanpa pamit.



BAB VI
            Detak dan gerak kaki kuda membangunkannya, hari sudah terang. Matahari berkilau diatas embun, pekatnya kabut pagi membasahi tubuhnya, rupanya kelelahan membuatnya tertidur di punggung kudanya, Ibunya dan adiknya di atas kuda mereka masing – masing hanya memandang kedepan tanpa suara.
“Mama, kita dimana?” Tanyanya ingin tahu
“Kita di Lewa sekarang, sedikit lagi kita berhenti, kita akan makan dan melanjutkan perjalanan.” Jawab ibunya Nampak lelah.
“Kita akan kemana, mama?”
“Kita akan ke Waingapu, disana ada Om Njara yang sudah menunggu, kita akan aman disana, Jawab adiknya, nampak dewasa.
“Tidak Reku, kita tidak akan menemui siapapun, termasuk Om mu, kita akan pergi mencari tanah barudan hidup baru, jauh dari orang – orang yang kita kenal, Kau dan Aya harus meninggalkan hidup lama. Ingat Pendeta belanda itu bilang, bahwa Mori Jesus diatas sana beserta kita, kita harus mulai hidup baru, aku membawa cukup banyak barang yang bisa ditukar, kuda inipun kita akan tukar untuk dapat membeli tanah.” Jawab Ibunya mengagetkan mereka berdua.
“Kita berhenti disini, perintah ibunya sambil turun dari Kuda saat melihat tanah yang rata, setelah seharian perjalanan yang melelahkan, ini sudah di Waingapu, sepertinya ini kebun orang, kita akan mencari siapa pemiliknya, rumah mereka pasti tidak terlalu jauh dari sini.
“apakah itu benar, mama? Saya senang sekali, saya ingin bersekolah mama. Pendeta bilang di Waingapu sudah ada sekolah yang mereka dirikan, mungkin kalau mereka tidak tahu kalau kita hanya hamba mereka akan membiarkan kita sekolah.” Serunya senang, membayangkan bisa bersekolah, seperti cerita yang sayang didengarnya dari pendeta Belanda mereka.
“tentu saja Aya, kau akan bersekolah kita tidak akan pernah kembaliKata Ibu mereka dengan tatapan tak ingin dibantah.


BAB VII

            Matahari Waingapu bersinar terik diatas kepalanya. Bau amis ikan bercampur bau kuda menjemputnya saat ia memasuki kawasan pelabuhan yang sudah diakrabinya selama beberapa tahun ini, tahun 1935 pelabuhan Waingapu sedang berada di pusat keramaian. Kapal – kapal dari tanah Jawa dan dari pulau – pulau Asing datang membeli Kuda Sumba, Menir – menir Belanda juga tak kalah banyaknya memasuki Waingapu, sudah beberapa tahun sejak Ia meninggalkan Anakalang. Ia membawah sirih pinang di pelabuhan untuk ditukar dengan ikan dan sayur mayur.
“Aya, apa kau bawa sirih pinang hari ini?” Tanya Tuan Abu Bakar pemilik Kapal Ikan terbesar di pelabuhan itu.Semua orang tahu bahwa Abu Bakar telah menaruh hati pada Aya selama ini, namun tak ada sedikitpun tampak melihat bahwa gadis itu akan menerima pinangan Abu Bakar.Banyak pria lain juga menyukainya tapi tak berani mendekatinya. Mereka tahu dia bersekolah di sekolah Menir Belanda.“Ia Abu, saya hendak menukarnya dengan ikan, saya membawa cukup banyak hari ini.”
“Oh tentu saja Aya, Kau boleh mengambil ikan sebanyak yang kau mau.
“Terima kasih Abu,” ucapnya terburu – buru sambil mengambil beberapa ekor ikan, dan membawakan beberapa kumpul sirih yang telah diikatnya dalam daun kepada Abu, pandangan Abu menakutinya, sudah beberapa kali saat ke pelabuhan laki – laki itu mengikutinya.Tak sedikit Ia memberikan pemberian kepada Ibunya, karena itu segera setelah ia menerima ikan ia segera berlari pulang. Sore hari ia akan mengajar di Sekolah Belanda, Setelah 3 tahun ia bersekolah.
Sekolah mereka beratap alang-alang dan berdinding papan, walaupun Menir Belanda itu sudah menyampaikan beberapa kali bahwa dia sudah selesai sekolah dan bisa bekerja di Gereja, tapi Aya tetaplah ke Sekolah. Sambil mendengarkan ia membantu menir Belanda itu untuk membersihkan kelas dan menaruh tikar, kadang jika Menir berhalangan hadir dia jugalah yang akan mengajar.
Tak sedikit yang menasehatinya karena tak juga menikah, tapi perasaannya ditutupinya sebaik mungkin.Ia tahu membuka kenangannya hanya akan melukai hati ibu dan adiknya, banyak orang yang menghormatinya. Ibu dan adiknyapun demikian, memperoleh penghormatan yang sama.Dimana saja ia pergi orang – orang memanggilnya dengan nona guru.

BAB VIII
            Langit berwarna merah saga sore itu, semerah hatinya. 5 tahun berlalu begitu cepat juga untuk bukit – bukit Anakalang. Pohon – pohon jati yang ditanamnya dengan tangan mudanya tumbuh tinggi perkasa ditanahnya. Anak –anak kecil tumbuh menjadi wanita – wanita dan pria dewasa, begitu cepatnya mereka bertumbuh, tapi dihatinya waktu berlalu sangat lamban bagi Umbu Djati,  masih terasa seperti hari itu saat ia kehilangan hatinya, Aya. Kesedihannya, kemarahannya bahkan terasa makin pekat setiap menit, Ia sudah bukan Umbu Djati yang sama sekarang, Ia Umbu Djati pria dewasa yang terluka.
Tahun – tahun itu begitu berat buat dia, kehilangan Aya, Ibunya dan kepergian adiknya yang menikah dan pergi ke Kampung yang jauh. Tak seharipun Ia berhenti mencari kekasihnya yang pergi entah kemana, Bukit – bukit, Gunung – gunung dilewatinya, padang – padang sabana jadi kawan akrabnya, Ia pergi kemana kaki membawanya, tapi gadis itu seperti hilang ditelan bumi. Ia pria yang dihormati tapi tanah dan langit tahu, betapa sering Ia menangis ketika melihat matahari terbenam dan ternyata Ayanya, tidak muncul di akhir hari itu. Ia selalu dengan sengaja pergi di rumah Umbu Sawola ketua suku yang rumahnya berdiri di gerbang kampung, hanya karena berpikir mungkin Aya, akan muncul dengan tempayan air dikepalanya seperti hari – hari biasanya, tapi hari – hari itu tetaplah sama. Menyiksanyadengan payah.
            Rambu Katta, melihat betapa semaraknya hari itu, Umbu Djati pria yang diidam – idamkan semua wanita di Anakalang, akan datang kerumahnya lagi sore itu. Semua tahu Ia wanita tercantik dikampungnya, kedatangan Umbu Djati tentulah membuat semua orang selalu bertanya – tanya, gerangan apakah pria bangsawan tampan itu sehingga ia selalu datang dirumah ketua suku mereka Umbu Sawola.Banyak isu berkata bahwa ia mungkin menaruh hati pada Rambu Katta putri satu – satunya Umbu Sawola yang sangat cantik.Mereka merupakan pasangan serasi, semua orang menyadari itu, Umbu Djatti bukan hanya bangsawan kaya nan rupawan tapi juga tampan dan berwibawa dan Rambu Katta pun demikian, walau tak sekejabpun Umbu Djatti pernah memandangnya, tapi setiap hari ia berusaha untuk tampil dengan menarik di depan Umbu Djatti.
“Ini sirih pinang Umbu,” ucapnya malu – malu sambil mengulurkan kaleku sirihnya.
“Terima kasih Rambu. Oh ya Rambu saya dengar bahwa di Anakalang akan didirikan sebuah Sekolah Kristen, apakah engkau tahu itu?”
“Oh ia Umbu, saya dengar itu kemarin di Gereja, saya senang sekali dan ingin untuk bisa bersekolah, banyak orang yang sudah pergi untuk mendaftar tapi Pak Pendeta bilang kalau mereka hanya menerima 10 orang saja. Bapa, sudah pergi meminta pada Pak Pendeta, dan entahlah apakah masih ada kesempatan atau tidak tapi Bapa pulang dan tidak memberi tahu apa – apa kemarin. Saya ingin sekali bersekolah Umbu apalagi ini sekolah pertama yang berdiri, Umbu beruntung sudah banyak mendapat ilmu dari Pak Pendeta, tentulah Umbu tidak perlu bersekolah lagi.
“Saya juga ingin Rambu, tapi saya tidak bisa melakukannya, peperangan dengan jepang secara  diam – diam sedang terjadi.”
“Ia Umbu.” Jawabnya sedih
“ Saya mendengar banyak yang terluka terkena senjata dan pedang Jepun tapi saya tidak berani menengok kesana sampai hari ini Umbu.”
“Jangan Rambu bersusah –susah karena itu, disana sudah banyak yang membantu.” Jawabnya Iba dengan gadis itu, cantik muda namun kesepian, ia ingat dengan Ayanya saat pergi dari Kampungnya hari itu, sama mudanya seperti Rambu Katta. Ditatapnya gerbang Kampung yang berdiri diam, seolah memahami isi hatinya yang sekali lagi koyak, karena wajah itu tak juga muncul hari itu.
“Sudah hampir malam Rambu, hari mulai gelap, saya pulang dulu, terima kasih untuk seikat sirih hari ini, maafkan sudah mengganggu Rambu.”
“Tentu tidak Umbu, kami merasa berterima kasih Umbu mau datang kemari.”
            Matanya menatap bahagia melihat laki – laki itu pergi, Ia berdoa semoga Umbu Djatti dapat memahami pengharapannya, dan hari – hari remajanya yang kesepian akan berakhir. Ia masuk sambil bernyanyi – nyanyi, saat Ia mendengar suara teriakan yang pecah menggelegar.

BAB IX

Semua barang – barangnya sudah hampir siap, baju dan sarungnya sudah lengkap, begitu juga dengan buku –bukunya, Ia akan pulang ke Anakalang, semua rasa ragunya sudah dibuangnya jauh – jauh, ia tahu bahwa Ibunya juga kuatir dengan kepergiaannya namun dengan kebesaran hati ia melepaskan putrinya walau ia tahu apa yang akan dihadapi oleh anaknya sesampainya disana.
“Rabbu, saya berangkat,” peluknya erat dan berat, Ia tidak ingin menangis di depan ibunya, wajah tua itu menyiratkan kebahagiaan sekaligus kepedihan yang menyayat hatinya. 
“Ya. Mori jesus akan selalu besertamu, ingatlah untuk pergi berkunjung ke rumah Rambu Piras, tidaklah baik kalau mereka tahu kau ada tapi tidak datang berkunjung.
“Tapi mama
“Mama mengerti, terserah padamu, engkau sudah dewasa sekarang.” Ucapnya penuh kasih, saat melepas putrinya pergi kembali ke tanah kelahiran yang sangat dirindukannya.
Perjalanannya terasa begitu berat karena beban hatinya, semua masa lalu menyiksa hatinya selama perjalanan.Wajah marah Umbu Djattilah yang lebih memenuhi hati dan pikirannya. Bertahun – bertahun Ia bermimpi tentang pria, dan hari ini ia justru akan kembali kesana, walau sudah disiapkan hatinya selama ini, namun semakin dekat semakin ia merasa bahwa Ia tak siap.
Ia diterima di Pastori Gereja Waibakul, Anakalang. Walau masih sangat sederhana namun Ia bersukacita, karena ia diterima dengan sangat baik. Ia guru pertama di Anakalang walaupun banyak yang tahu siapa dia, namun kedudukannya sebagai nona guru membuatnya tetaplah dihormati.
Ia sudah selesai mengajar siang itu, sejak sebulan kerinduannya akan Umbu Djatti sudah tak tertahankan lagi, wajah itu datang padanya lebih seyang, ia sudah membulatkan tekad akan kesana hari ini. Kudanya sudah disiapkan dihalaman belakang saat seorang wanita muda berdiri di pintu pastori, tempat tinggalnya.
“Rambu Roku?” ucapnya terkejut melihat wajah muda yang sangat dikenalnya itu.
“Aya..” Rambu Roku maju memeluknya dengan erat.
“Kau keman asaja selama ini Aya? Kami semua mencarimu…” ujarnya terbata – bata sambil menangis, membuat hati Aya remuk karena kesedihan, selama ini Ia menyangka bahwa mereka tidak akan memperdulikannya dan keluarganya sebagai budak di keluarga mereka.
“Bagaimana kabar Inna?”
“Dia baik – baik saja, bagaimana kabar Ibumu dan juga Umbu Djati, Rambu?” Tanyanya menguatkan hatinya saat menyebutkan nama Umbu Djatti.
“Mama, sudah meninggal 2 tahun yang lalu Aya, kepergian kalian sangat melukai hatinya, saya sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi waktu itu Aya, tapi Umbu Djatti seperti orang yang kehilangan arah sejak hari itu, Aya. Dia begitu terluka dan marah, saya dan mama tidak punya cukup keberanian untuk mendekatinya, bahkan sampai saat mama pergi, mama hanya berpesan untuk mencari kalian, Aya.”
“Setelah mendengar kamu yang mengajar disini, saya langsung datang menemui kamu. Saya ingin tahu apa yang terjadi Aya, apa yang sebenarnya terjadi hari itu?” tanyanya ingin tahu sambil memegang tangan Aya, yang gemetar sejak mendengar nama itu.
“Maafkan saya Rambu, saya harus pergi ke Kampung sekarang, saya akan menceritakan semuanya sekembalinya dari sana,” ucapnya tak sanggup lagi menahan hatinya untuk bertemu dengan Umbu Djatti setelah mendengar cerita Rambu Roku. Ia memacu kudanya meninggalkan Rambu Roku yang hanya berdiri menatapnya dengan terheran - heran.
Ia tidak lagi memperdulikan apapun lagi sekarang, status, kedudukan atau apa saja. Degup jantungnya berdetak seirama bunyi kaki kudanya, semakin dekat dengan kampungnya, semakin Ia ingin berlari pergi tapi hatinya berkata lain.

BAB X
Kampung itu masih sama seperti dulu, warna coklat dari bambu tua, atap alang – alang dan tanah menyatu menerimanya seperti dulu.Kubur – kubur sumba tua bermandi lumut, tempat ia bermain saat masih kecil seperti sahabat lama yang ditemuinya lagi. Hari ini akhirnya ia kembali, anak – anak kecil telanjang memandangnya dengan tatapan lugu, seperti matanya dulu, namun pandangannya hanya terarah pada rumah besar tua di ujung kampung itu, rumah itu masih berdiri tegap, kuat, kokoh seperti dulu, seperti membuka tangan membuka hati menerimanya pulang. Ia melangkahkan kaki perlahan dalam kesunyian yang terasa begitu pekat baginya, ia bisa mendengar bunyi langkah kakinya yang lemah di atas lantai – lantai papan.
“Nona Guru.” Sebuah suara lembut dari bawah rumah menahan kakinya.
“Rambu Katta?” Itu suara salah satu muridnya. Ia membalikkan tubuhnya perlahan – lahan.
“Nona Guru mencari siapa disini? Saya melihat Nona Guru dari rumah, makanya saya lagsung kesini.”
“Saya mencari…saya mencari tuan rumah ini Rambu, ujarnya perlahan – lahan.
“Rumah ini sudah lama tidak didiami Nona Guru,” ujarnya dengan sopan, seperti tahu pertanyaan dalam hati Aya, kami membersihkannya tiap hari untuk menghormati pemilik rumah ini.
“Umbu?” Tanyanya ketakutan seperti hendak mati rasa.
“Dia tidak disini Nona Guru, dia….” Tangisan gadis itu merobek – robek hatinya.
“Dia dimana Rambu, saya ingin menemuinya…” Ucapnya dengan sisa kekuatan yang tersisa padanya.
“Dia pergi ke Waikabubak 2 minggu yang lalu Nona Guru, hari saat Nona Guru datang ke Anakalang, dia terluka karena tertembak, saat dia tahu Nona Guru datang, dia berjuang untuk bangkit dari tempat tidurnya, itulah pertama kalinya dia mau bangun dan begitu bersemangat setelah beberapa tahun begitu diam. Saya yang mengantarnya hari itu ke Geraja, tapi kesakitannya membuat kami memutuskan membawanya ke Rumah Sakit di Waikabubak, kami masih sempat melihat nona guru saat tiba di Pastori, Ia begitu bahagia, tapi tak sempat kami bertegur sapa karena harus membawanya ke Rumah Sakit. Ia akan sangat bahagia jika Nona Guru mengunjunginya.’’Ujar gadis itu menghapus air matanya.

BAB XI

           
            Rumah Sakit itu masih baru dan begitu megahnya berdiri, dibatunya terukir nama Rumah Sakit Lende Moripa, namun bukan itu yang menjadi perhatiannya, yang ingin ditemuinya pria yang dicintainya dengan setulus hati, Ia sudah kembali, semua kenangan seperti berputar kembali, ketika ia mencari wajah  Umbu Jati di sal yang begitu luas itu.
            Tubuh itu terbaring lemah di ranjang, dadanya nampak membiru, dan bekas perban masih cukup banyak menutupi bekas lukanya, ia mendekat perlahan, ingin menegurnya, namun mata pria itu tiba – tiba terbuka dan menatapnya nanar...
“Aya...kaukah itu...”teriaknya tersengal berusaha bangkit dari tempat tidurnya.
“Ia Ubu...ini saya...”ucapannya terhenti, karena sedetik kemudian ia sudah berada dalam pelukan pria yang sangat dicintainya itu, ia diciumi berkali – kali...seolah – olah Umbu Jatti tidak akan pernah melepaskannya lagi.
“Umbu, engkau masih sakit,”ucapnya tersedu sambil memeluk Umbu Jatti, saya yang akan memelukmu, tenanglah saya akan disini, saya tidak akan meninggalkan  engkau lagi.
“Tidak Aya...saya akan mati kalau engkau meninggalkan saya lagi.., kenapa Engkau meninggalkan saya, Engkau tidak tahu perasaan saya, saya sangat mencintaimu, teriak Umbu Jatti sambil menangis.
“Saya juga mencintaimu, Umbu,” Ucapnya terharu. Mereka berpelukan lama, mengeluarkan setiap lara dan kerinduan mereka bertahun – tahun lamanya.

Aya merawati Umbu Jatti setiap jam mengajarnya selesai, walaupun ia harus berkendara dengan kuda dari Anakalang ke Waikabubak, namun jarak itu ditempuhnya dengan tak terasa karena cintanya kepada Umbu Jatti, Di Rumah Sakit mereka berdua membicarakan semua hal yang selama itu tersimpan di hati mereka.
“Aya...mari kita menikah...”Ucap Umbu Djatti tiba – tiba, ketika Aya sedang menyuapinya, Matanya bersinar – sinar penuh pengharapan.
“Tapi..Umbu” Ucapnya ragu – ragu menunduk menghindari tatapan yang penuh makna itu.
“Aku tahu apa yang menjadi keraguanmu, tapi sejak engkau dibawa lari, hari itu saya sudah siap untuk melompati api sekalipun demi untuk engkau, apalagi sekarang setelah bertahun- tahun”, ucapnya teguh sambil menatap Aya dengan penuh kasih.
“Baiklah Umbu, saya percaya padamu...hati sayapun demikian adanya, saya mencintaimu, dan percaya padamu.” Ucapnya terharu lalu memeluk Umbu Jatti.
“Hanya itu yang saya perlukan Aya... hanya itu saja...ucap Umbu Djatti bahagia.
Kehadirannya memulihkan Umbu Djatti, para dokter terheran – heran akan pemulihan Umbu Jatti yang begitu cepat, namun juga tahu bahwa kebahagiaannyalah juga yang mempercepat kesembuhannya.


BAB XII


Umbu dan Aya duduk di talora rumah mereka tersenyum menatap anak – anak yang sedang bermain  di halaman,semua hal buruk telah berlalu, mereka menikah di Gereja dengan pesta sederhana, walaupun pernikahan mereka berdua belumlah cukup diterima oleh segelintir orang di kampung mereka, tapi itu tidak menghambat mereka berdua. Ia menengadah kelangit, bersyukur, semburat merah diatas langit Sumba seperti tersenyum padanya. Ia akan mengabdi untuk Sumbanya dan untuk kekasihnya. Ia tahu diatas sana Mori Jesus mengasihinya..

Glosarium

Kalekuè Tempat sirih pinang
Belis   è alat pembayaran untuk meminang perempuan
anakajakaè bale- bale di rumah panggung Sumba
taloraè halaman rumah
Rabbuè panggilan halus untuk wanitaAnakalang








Subscribe to receive free email updates:

0 Response to " NOVEL SEMBURAT MERAH DI ATAS SABANA SUMBA"

Post a Comment