NOVEL SEMBURAT MERAH DI ATAS SABANA SUMBA
SEMBURAT MERAH DI ATAS SABANA SUMBA
BAB
I
Matanya melirik takut
ke kiri dan ke kanan, di antara desau angin senja yang sepi, dia bisa
merasakan kalau dia tidak sendiri di
padang itu. Bukan saat ini saja, tapi sejak ia meninggalkan kampungnya, suara tapak kaki kuda dari kejauhan seperti sedang mengikutinya, Ia
berlari sekuat yang ia mampu, tak dipedulikannya tajam rumput ilalang kering
menusuk kakinya yang tak beralas. Langit di atas padang sabana Sumba berwarna
merah tanah seperti warna sarungnya, pertanda sebentar lagi hari akan menggelap, ia harus lebih
cepat sampai kekampung.
Dia
sadar bukan karena suara itu saja sumber
dari rasa takutnya.Tapi ia juga takut kemarahan nyonyanya
Rambu Piras akan keterlambatannya, mereka tak pernah perduli seberapa jauh
jarak yang harus ia tempuh atau seberapa lelahnya dia, ia harus tetap kembali secepat
mungkin. Dia memegang erat kareranya,
tas Sumba dari anyaman pandan pemberiaan
neneknya, di dalamnya terbungkus sirih, pinang dan kapur dalam daun keladi.
kegemaran Rambu Roku putri kesayangan Rambu Piras tuannya.Sudah
dua hari ini mereka kehabisan sirih pinang, daun sirih di pohon – pohon kampungnya
tergantung mengering akibat musim kemarau yang panjang hanya
pinanglah yang masih mereka miliki, tapi dua hari yang lalu Reku adiknya yang biasa memetik pinang jatuh dari pohon ketika harus memetik kelapa.Sejak
adiknya sakit itulah dia harus memikul lebih banyak tanggung jawab, termasuk
harus pergi ke kampung sebelah untuk meminta sirih pinang kegemaran Rambu Roku.
Dia terlahir sebagai
putri dari keluarga budak di Anakalang Sumba, sejak dari ia mengenal kehidupan,
yang diketahuinya hanya bekerja melayani keluarga tuannya. Dalam hidupnya ia
tidak mengenal kata tidak, semua kata tuannya adalah perintah,
dan Ia menganggap sebagai suatu kehormatan bisa melayani keluarga itu. Saat ia
masih sangat kecil ia sudah harus mengurus Rambu Roku putri tuannya yang seumur
dengannya, tak terhitung air mata iri yang dihapusnya diam – diam karena begitu
inginnya Ia bermain, tapi semua itu hanya mimpi baginya, Ia tahu sebuah
kesalahan akan berbuah lecutan, tak terhitung
berapa kali tubuhnya dirajam oleh tali kuda, karena itu semua mimpi dan keinginannya dikuburnya dalam – dalam, dalam jiwanya.Ia hanya harus
melayani tuannya itu saja, dan mengabdi dengan seluruh
jiwanya.
Dengan cepat ia
melangkahkan kakinya yang tak beralas, sakitnya karena irisan ilalang tak
tertahankan, sarungnya beberapa kali harus dipasangi lagi karena hampir terlepas
dari pinggangnya, rambutnya yang tak terurus, berkibar – kibar diterpa angin
senja yang mulai menggelap. “Sudah sampai” bisiknya lirih pada dirinya sendiri,
ketika melihat cahaya lampu pelita dari rumah tuannya.
Umbu Djati putra
tertua tuannya muncul tiba – tiba dari depan rumahnya, wajahnya yang tampan
memerah karena marah tak urung rasa takutnya menjadi –jadi, ia membayangkan
sakitnya lecutan yang akan segera di dapatnya dari Rambu Piras Ibu Umbu Djati. Tubuhnya bergetar karena takut, Umbu Djati juga bisa
melecutinya kalau saja dia mau, walau tak pernah sekalipun dia melakukannya.
“Darimana saja kamu?”Tanya
Umbu Djati dengan nada marah.
“Dari meminta sirih
pinang untuk Rambu Roku, Ubbu” Jawabnya sambil menunduk, ia tak berani
memandangi wajah tuannya, hanya Umbu Djatilah satu – satunya orang di keluarga
tuannya yang tak pernah mengasarinya, Ia anak Rambu Piras yang tertua, sejak di
tinggal oleh ayah mereka, Umbu Djatilah yang menjadi pengganti Ayahnya.Ia
sangat bijak, sehingga bukan saja menjadi kebanggaan Rambu Piras tapi juga
Kampungnya.Dia selalu menjadi pembicara dalam adat – istiadat di kampung mereka,
Ia juga sangat tampan berbeda dari keluarga – keluarga bangsawan lainnya,
ayahnya pernah bercerita bahwa mereka para budak dikaruniai wajah
bangsawan tapi para bangsawan dikaruniai wajah budak, tapi Umbu Djati tidaklah
demikian ia juga tampan selayaknya seorang bangsawan. Suara
teguran Umbu Djati mengagetkan lamunannya, Inilah pertama kalinya setelah ia
berumur 19 tahun ia mendengar nada keras itu keluar dari mulut Umbu Djati.
“Mungkin Ia sudah
menyadari apa statusku dan statusnya” bisik hatinya perih,
merasakan kehilangan harapan bahwa masih akan ada orang yang akan menghargainya.
“Kau membuatku
kuatir, Rambu Roku itu maunya
hanya dituruti, kalau dia mau kenapa tak dicarinya sendiri saja.” Teriaknya
marah.
“Maafkan saya Ubbu,
saya tidak bermaksud membuat semua kuatir” bisiknya perlahan, meminta maaf menyembunyikan rasa terkejut mendengar pembelaan Umbu Djati, apalagi
setelah melihat keterkejutan di wajah Umbu Djati menyadari kata – katanya
sendiri.
Rasa
senang namun sekaligus malu tak bisa hilang dari bibirnya bahkan saat ia pergi
tidur. kata – kata Umbu Djati, wajah Umbu Djati
yang terkejut dengan ucapannya sendiri memenuhi benaknya, rasa lelahnya dan
sakit akan luka – luka di kakinya tiba - tiba tak terasa lagi.
BAB II
Rasa leganya begitu
besar saat gadis itu pergi meninggalkannya.Ia tak
bisa menahan perasaannya di depan gadis itu, ia sadar itu terlarang. Ia
mengenal perasaannya akhir – akhir ini bahwa Ia jatuh cinta pada budaknya, saat
mereka kecil ia selalu berusaha menjahilinya, ia sering
menarik sarung gadis itu sampai gadis itu jatuh.Ia juga sering
mengagetkannya dari balik semak – semak, saat dia pulang dari mencari kayu
bakar, tapi sekarang dia tidak mengerti apa yang terjadi dengan perasaannya,
dan semua itu semakin kuat saat dia melihat bahwa dia tumbuh menjadi wanita
dewasa, dan menjadi sangat cantik. Tubuhnya yang tak mengenal istirahat seolah
diukir pemahat, wajahnya yang kadang dipenuhi peluh dan arang dapur seperti
dilukis malaikat, hampir semua pemuda di kampungnya selalu menunggu di depan
rumah mereka saat pagi hari atau senja hari saat gadis itu selesai mandi dan
lewat sambil menjunjung tempayan air di kepalanya yang basah. Ia hampir tak
bercela, namun bukan itu yang diperdulikannya, yang dicemburuinya adalah para
budak – budak laki –laki, tak ada yang melarang mereka jika ingin mengambil
gadis itu sebagai istri, sedangkan mereka kaum bangsawan dianggap aib jika
mengambil istri atau suami dari kalangan budak, seumur hidup mereka harus menanggung aib, keluar dari kaumnya.
Ia tahu apa saja
bisa terjadi dengan gadis itu ketika gadis itu pergi, pria – pria dari kalangan
budak yang menyukainya bisa melarikannya kerumah mereka kapan saja, dan sebagai
lelaki yang dituakan mau tak mau ia yang harus mengurus adatnya, dan ia tak mau
itu terjadi.
Di Anakalang kampungnya,
mereka memiliki adat menculik perempuan, itu bisa terjadi jika laki – laki tak
punya cukup hewan sebagai belis atau
pembayaran adat, atau karena sang perempuan menolak padahal keluarganya setuju. Perempuan bisa diculik dan dilarikan ke
keluarga lelaki, para utusanlah yang kemudian akan mengabarkan kepada keluarga
wanita bahwa perempuan itu telah ada bersama mereka, gong dan tambur akan
dipukul di rumah keluarga lelaki sebagai tanda sukacita mereka karena telah
berhasil membawa wanita tersebut.
Karena adat itulah
saat gadis itu pergi meminta sirih pinang di Kampung tetangganya, Ia
mengikutinya dengan diam – diam dengan kudanya dari jauh. Sudah beberapa hari
ini dia mendengar bisikan – bisikan di kalangan para budak, bahwa seorang budak
laki – laki dari kampung sebelah sudah mulai menyiapkan beberapa kuda sebagai
pembayaran adat untuk melarikan gadis itu. Ia beberapa kali hampir turun dari
kudanya saat melihat gadis itu hampir jatuh ketika berlari, ia marah pada
dirinya sendiri karena begitu takut kehilangan gadis itu, ia sadar ia tak bisa
menjaganya setiap waktu. Orang –orang di Kampungnya pasti akan tahu, jika ia
terus mengikuti gadis itu, karena tak ada yang bisa menjadi rahasia di
kampungnya.
Ia tak ingin gadis itu keluar dari rumahnya,
karena itu ia begitu marah begitu tahu gadis itu pergi ke kampung
sebelah. Sekarang setelah gadis itu kembali dengan selamat, ia sudah merancang
1001 pekerjaan yang harus dikerjakan gadis itu di rumahnya tanpa perlu dia
meninggalkan rumah.
BAB III
Kokok ayam jantan
dari kandang disamping dinding kamarnya membuatnya terbangun.Dinginnya
pagi bulan Juni menerobos belahan – belahan bambu bulat
dinding kamarnya, ia masih ingin tidur, semalam tidurnya tak cukup nyenyak
padahal tubuhnya sudah sangat lelah, ia tak bisa menghilangkan ingatan tentang
sikap Umbu Djati yang membelanya.
“Aya, bangun, hari ini Umbu minta kopinya
harus lebih pagi, cepatlah ambil kayunya di luar.”
Nama itu membuat ia cepat – cepat turun dari
tempat tidurnya. Langit masih gelap, suara kokok ayam dan
suara –suara kesibukan dari dapur saja yang menandakan bahwa hari sudahlah
pagi, dan ia berlari – lari ke bawah dapur mencari kayu –kayu yang sudah dikumpulkannya
beberapa hari yang lalu, namun saat ia mengangkat kepalanya, di *anakajaka bangku di depan rumah, dekat pelita yang
hampir – hampir padam diterpa angin pagi, ia melihat Umbu Djati duduk sambil
memandanginya dengan mata penuh kesedihan, ia tak bisa bergerak dalam tatapan
itu, ia tersadar saat mendengar suara ibunya meminta kayu bakar, tapi saat dia
membalikkan badan dia masih merasakan pandangan Umbu Djati padanya.
Ia merasa sesuatu seperti merobek hatinya, “apakah Umbu Djati tidak tidur?”
tanyanya dalam hati saat ia meniup kayu yang mulai terbakar. “Aya, ayo bawa
kopi ini untuk Umbu Djati, sejak semalam Ia belumlah tidur, entah masalah apa
yang di pikirnya, pAyantah ibunya, tak memperhatikan keterkejutannya akan cAyata
ibunya.
Ia berdiri cukup lama di belakang umbu
Djati, ingin sekali memandang figurenya lebih lama, tapi kopinya akan keburu
dingin.Ia meletakkan kopi itu di samping Umbu Djati
perlahan – lahan tidak ingin membangunkan lamunan Umbu Djati, namun saat dia
berbalik suara Umbu Djati menghentikan langkahnya,”Kau tidak boleh kemana –mana
Aya, hanya jika aku yang menyuruh barulah kau boleh pergi, beberapa minggu ini
aku ingin kau bekerja dirumah saja, jika kau ingin keluar, kau harus meminta
ijin dariku, kau dengar itu Aya?” Ucapan tegas tak ingin di bantah
mengagetkannya.
“Ia Ubbu, “jawabnya sambil beranjak walaupun
hatinya dipenuhi banyak pertanyaan. Ini pertama kalinya Umbu Djati memeriantahnya
demikian dan ia tahu tak akan ada seorangpun yang akan berani membantah perintahnya,
bahkan ibunya sendiri, Rambu Piras. Pekerjaannya lalu hampir tak ada habisnya, selama
beberapa hari kemudian, Umbu Djati membAyanya
begitu banyak pekerjaan di rumah.Namun itu
semua tak diperdulikannya, yang diherankannya tak sekejabpun Umbu Djati meninggalkan rumah, padahal sudah menjadi
kebiasaan tuannya untuk setiap sore hari, sekembalinya dari pekerjaannya
mengawasi budak – budak yang lain bekerja di sawah
dan ladangnya, dia akan mengunjungi
teman – temannya atau para tetua dikampungnya. Namun sudah beberapa waktu
lamanya, ia hanya tinggal di rumah, mengasah parangnya, tak diperdulikannya undangan
adat dari tetangga mereka. Ibunya Rambu Piras tak urung kuatir, tapi
tak ada yang berani menanyakan kenapa, mereka semua berusaha membuatnya senang
berada di rumah. Apalagi dia, Aya senang Umbu Djati
tak kemana – kemana, ia tahu semua wanita bangsawan selalu menunggu – nunggu
kedatangan Umbu Djati. Mereka selalu berusaha menarik perhatiannya.
Dulu, saat Ia ke pesta bersama –sama Rambu
Piras nyonyanya karena harus menjunjung nasi dalam bola nasi, anyaman pandan tempat nasi, bawaan mereka untuk tuan pesta, Ia melihat
wanita –wanita itu dengan sarung ikat yang cantik, mamuli emas yang berkilau
tergantung di kalung anahida mereka
memandang Umbu Djati dengan malu –malu.Tak sedikit
Ia mendengar bahasa dari para orang tua yang ingin anak mereka untuk dinikahkan
dengan Umbu Djati, apalagi semua orang tahu berapa banyak hewan di kandang
keluarga Rambu Piras. Kuda, kerbau, babi dan sapinya tak
terhitung banyaknya.Tak sulit buat Umbu Djati dengan kekayaannyauntuk
membayar biaya belis adat jika ingin mengambil wanita bangsawan.
“Aya, bawakan aku air dalam tempayan, parang
ini harus di bersihkan lagi,” tAyaak Umbu Djati
yang sedang membersihkan
parangnya, menghentikan lamunannya.
“ia Ubbu, saya akan ke sumur sebentar untuk
mengambil airnya. Air dalam tempayan habis untuk memasak pagi ini. “Ujarnya
terburu – buru sambil mengambil tempayan.
“Tidak”, pegangan tangan yang begitu kuat,
tiba – tiba mencengkram lengannya
membuatnya menangis, “Sudah ku katakan kau tidak boleh
kemana –mana bahkan kalau airnya habis. Suruh Reku
mengambilnya untukku, kau tinggal saja di rumah bekerja.” Perintahnya
sambil melepaskan tangannya.
“Ia Ubbu,” jawabnya sambil cepat beranjak ke
dapur menyuruh Reku, adiknya.
“Mama, Umbu tak mengizinkan saya kemana –
mana, diapun tak pergi kemana – mana, ini sudah hampir 3 minggu tapi dia hanya
dirumah saja, diapun tak ke sawah memeriksa padi
yang hampir dituai, padahal tak pernah sekalipun dia tak pergi ke sawah selama
ini,” lapornya pada Ibunya, sambil menyentuh tangannya yang dipegangi Umbu
Djati. Tidak ingin rasa itu pergi cepat.
“Aya, jangan pikirkan hal yang bukan
urusanmu, kerjakan saja apa yang jadi tugasmu, mungkin dia sedang ingin bersenang
–senang karena tahun ini lumbungnya penuh, hewan
– hewan di kandangnyapun beranak pinak dengan banyaknya”
jawab ibunya menghalau kekuatirannya. Ia takut
pada apa yang dilihatnya dalam mata Umbu Djati ketika memandang anaknya Aya, mata laki –laki yang ingin
memiliki anaknya, Ia sangat takut jika Rambu Piras juga menangkap pandangan
Umbu Djati itu, sebagai Ibu ia tahu hal itu, bukan sekali dua kali dilihatnya
tatapan Umbu Djati yang begitu kuat pada Aya. Ia juga
tahu alasan Umbu Djati melarang Aya keluar, Ia takut para pemuda budak akan
melarikan Aya, dia sedih melihat kesedihan dalam mata Umbu Djati, Ia sudah
membesarkan Umbu Djati sejak masa kecilnya, sebagai budak ia mengasihi Umbu
Djati seperti anaknya sendiri. kesedihan Umbu
Djati adalah kesedihannya juga, namun yang tak pernah dibayangkannya bahwa Umbu
Djati akan menaruh hati pada Aya anak perempuannya sendiri.
Ia tahu bahwa jika Umbu Djati tak bisa menahan perasaannya maka masalah akan
menimpa keluarganya, ia dan keluarganya pasti akan diusir dari rumah itu,
sedangkan mereka tidak punya apa –apa untuk bertahan hidup. Ditutupnya matanya,
berdoa semoga Mori Jesus, Tuhan yang diajarkan pendeta Belanda itu akan
menolong keluarganya.
BAB IV
Langit berwarna jingga, burung – burung
beterbangan pulang ke sarang, sudah mulai gelap saat Umbu Djati tertatih –
tatih pulang ke rumah, kakinya terkena bambu tajam
saat ia terjatuh di jurang saat berburu babi hutan, darahnya tak berhenti
menetes. Ia hampir pingsan saat tubuhnya mencapai rumah.
Rambu Piras sedang pergi dengan Rambu Roku ke Keluarga mereka di kampung lain.
Ia tak sadar berhari – hari lamanya, saat ia terbangun, dilihatnya Aya tertidur
di tikar di bawah tempat tidurnya, wajahnya yang pulas tergambar begitu indah,
ia ingin membangunkannya, namun hatinya
berkata lain, dengan berat dia mengangkat tubuhnya ia turun ke lantai, bunyi derik
Lantai bamboo rumahnya seperti melawannya, ia melawan pAyantah otaknya.
“Oh Ubbu?” Seru Aya terbangun,
menyadari Umbu Djati sudah sadar
“Jangan bangun Aya, aku tidak apa – apa,
isirahatlah,” Perintahnya.
“Oh, Ubbu, maafkan saya Ubbu, saya akan
mengambil air untuk Ubbu, mungkin Ubbu
haus, Ubbu mau makan?” tanyanya bertubi – tubi, menyadari kekhilafannya.
“Ya, aku haus, Aya.” Jawabnya lemah.
Setelah meminum air ia merasa tubuhnya
pulih. “Saya akan akan mengambil makanan untuk Ubbu, sudah beberapa hari Ubbu
tidak makan,”Ujarnya setelah melihat wajah Umbu Djati perlahan – lahan mulai
membaik. “Tidak, kau disini saja, tunggulah sampai
besok pagi, saya ingin tidur saja.” Perintahnya
dan jatuh tertidur kembali karena sakitnya.
Ia bangun dengan segar beberapa hari berikutnya,
Aya merawatnya dengan penuh kasih, sekarang dia bahkan sudah bisa berjalan walaupun
masih tertatih - tatih.
“Dimana Aya, Ina?Tanyanya
menjenguk Ibu Aya yang sedang memasak di dapur.
“Sudah dari tadi dia ke sungai untuk mandi
tapi belum juga kembali, kalau ubbu ingin sesuatu biarlah saya ambilkan.”
Jawabnya pada Umbu Djati.
“Tidak Inna, tapi
matahari sudah tinggi sekarang bukankah dia seharusnya sudah pulang.”Ucapnya
kuatir.
“Oh, itu dia Umbu, sudah datang.”Jawab ibu
Aya sambil menunjuk ke ujung jalan.
Setelah Aya menyimpan tempayannya di dapur
ditariknya gadis itu kedalam rumah, “kalau kau ingin pergi keluar beritahukan
padaku, aku tidak ingin membiarkan ada seseorangpun yang mengganggumu, aku akan
membunuh mereka, jika ada yang menyentuh kulitmu.” Ucapnya marah.
“Maafkan
saya ubbu, saya masih harus mencuci baju, saya tidak ingin mengganggu tidur ubu
tadi.” ucapnya malu dengan perhatian dan kasih yang didapatnya.
Hampir sebulan kini, dan memandang Aya saja
Ia sudah merasa puas, ia sudah mengambil keputusan didalam hatinya, yang
dipikirkannyalah sekarang adalah membicarakannya dengan ibunya untuk mengambil
Aya sebagai istri, Ia tak mampu lagi menahan perasaannya terhadap Aya.
Ia tahu bahwa Ia harus sudah siap melangkah ke atas api, bukan hanya ibunya
akan menjadi lawannya tapi kaumnya, sudah dibicarakannya hal ini dengan pendeta
Belanda di Gerejanya siang ini, dan Mr. Veernaant bahkan berjanji akan
mendoakan keinginannya.
BAB V
Ia terkejut beberapa tua adat yang
dikenalnya dari kampung sebelah duduk di *talora rumahnya saat ia
kembali dari melihat sawahnya sedang makan sirih dengan Ibunya, wajah Ibunya
yang tersenyum membuat ia berpikir, pasti para tua – tua adat mengundangnya lagi
untuk menyelesaikan masalah, sempat didengarnya sayup – sayup bunyi tetabuhan
gong dari sawah, itu mungkin karena ada dukacita atau juga sukacita.Jika
ada hal yang terjadi di kampungnya orang – orang akan menabuh gong, sebagai
tanda, sehingga orang –orang dari kejauhan akan datang, Ibunya sangat bangga
dengan undangan dari para tua- tua, tak mudah memang bagi seorang pemuda sepertinya
untuk duduk di tikar adat.
“Sudah datang rupanya, kami menunggu sejak
tadi.” Ucap seorang tua adat menyambutnya sambil memberikan
kalekunya yang berisi sirih pinang.
“Ada berita apa,
jauh – jauh datang kemari.”Tanyanya tak mau berbasa –
basi.
“Kami datang untuk hal yang baik, anak kami
sudah memetik sekuntum mawar dari rumah ini, kami datang untuk membAya tahu
kami siap untuk mengurus adat, “Ucap mereka memulai pembicaraan membuatnya
tersenyum mengingat adiknya Rambu Roku.Tak dibayangkan
si anak manja itu dibawa lari pemuda.
“Rambu Roku, adalah mawar yang kami jaga
dengan baik, anak siapakah pemuda yang telah membawanya? Jawabnya.
“Bukanlah Rambu Roku, tapi
Aya, Umbu” jawab Ibunya tiba – tiba, menyesakkan jiwa dan napasnya. Mendengar ucapan Ibunya, tanpa ditahan
–tahannya, bersegera Ia berlari kebelakang rumahnya tak diperdulikannya ibunya
dan para tua –tua yang terheran – heran
menatapnya, diambilnya kuda terbaiknya, parangnya sudah tergantung di
pinggangnya, jika mereka menyentuh Ayanya berarti mereka minta mati, teriaknya
dalam hati, kemarahannya tak bisa di tahannya.
“Ubbu, Ubbu…” sebuah teriakkan
dari semak – semak menghentikannya dalam perjalanan memasuki kampung
tetangganya.Tiba – tiba saja gadis yang dicarinya keluar dari semak – semak
dengan bercucuran air mata. Ia tampak sangat ketakutan, “Apa
yang terjadi denganmu?’’ teriaknya
hampir tak tertahankan, sambil melompat dari kuda.
“Mereka melarikan saya saat saya mau ke sungai
Ubbu, Ubbu biarkanlah saya pergi sekarang, mereka tidak tahu kalau saya
berhasil pergi, saya tidak ingin kembali kesana, janganlah Ubbu mengawinkan
saya dengan mereka.”
“Hanya bila aku mati baru kau kulepaskan,
kau dengar? Cepat kau ke Gereja sekarang! Perintahnya,
“aku akan pergi ke kampung laki – laki itu.” Janganlah kau kemana – kemana,sekarang
aku akan menyelesaikan tugasku dengan budak yang melarikanmu itu, bahwa aku
telah mengambilmu kembali, jika dia tidak bersedia akan kubakar rumah tuannyaatau
akan kubakar kampungnya, lihat saja. Teriaknya
Marah.
“Tapi Ubbu,”
“Tidak Aya, pergilah ke gereja sekarang, dan
tunggu aku disana.”
Di kampung adat Ia segera menuju rumah yang
sedang ramai dipenuhi orang, yang berpesta karena telah berhasil membawa lari
seorang gadis, orang – orang tak tahu kalau wanita yang mereka larikan sudah
lama pergi, gong ditabuh makin keras, mengundang orang – orang untuk datang,
sirih pinang diedarkan pada para tamu yang telah datang. Kedatangannya
mengejutkan mereka, itu pertanda tak baik, karena parapenatua adat belum juga
kembali tapi Umbu Djatti sudah datang terlebih dahulu, gong segera dihentikan, mereka
cepat – cepat memberikan sirih pinang untuk menyambutnya, tapi
segera ditampiknya. “Saya datang untuk menyampaikan bahwa saya
sudah membawa Aya kembali.” Ucapnya tegas membuat beberapa perempuan berlari –
lari memeriksa kamar yang didapati mereka sudah kosong
melompong.
Keriuhanpun
terjadi saat mereka tahu bahwa gadis yang mereka larikan itu sudah tidak ada
lagi. Pemuda yang melarikan Aya, hanya seorang
budak karena itu tak sedikitpun dia berani mengangkat kepalanya, hanya
tuannyalah yang berbicara.
“Duduklah dulu Umbu Djati, dan terimalah
sekapur sirih dari kami, jika Umbu tak mengijinkan kami mengambil *alas kaki Umbu, tidaklah kami akan
mengambilnya, jadi tak perlulah Umbu marah, terimalah 2
lembar kain dan seekor kuda dari kami sebagai permintaan maaf kami jika memang demikian,
tapi ijinkanlah kami mengetahui alasan Umbu datang untuk mengambilnya kembali,
apakah sudah ada pemuda lain yang telah lebih dulu mengikatnya?”Tanya tuan
rumah itu yang mengenal Umbu Djatti dengan baik, sebab mereka sering
bertemu dalam beberapa kali pertemuan adat.
“Ya, akulah pemuda itu,”Ucapnya tegas.
Jawabannya membuat keriuhan
di antara orang –orang, namun tidak ada yang berani berbicara sampai setelah ia
membalikkan kudanya meninggalkan keriuhan itu.
Ia tahu sekarang, apinya sudah mulai
menyala, sebentar lagi semua orang akan tahu, Ibunya, keluarganya, Kampungnya,
Semuanya. Ia memacu kudanya kencang – kencang ke gereja, Ia harus mengambil Aya
sebagai istrinya, ia akan menyampaikan pada ibunya, ia takkan mundur.
Ia berhenti saat melihat pdt. Vandeerhart di
jalan yang akan dilaluinya.
“Pendeta, apakah Aya ada di Gereja, saya
menyuruhnya kesana?”Tanyanya sambil turun dari kuda.
“Kita akan ke Gereja dan membicarakan ini
Umbu,” jawabnya sambil melangkah ke gereja.
Saat tiba dilihatnya Gereja kecil itu kosong,
sekosong hatinya, tanpa menunggu penjelasan pendeta, dia menuju ke pastori
tempat Pendeta, tapi tak dilihatnya juga Aya disana, Ia mengelilingi Gereja
itu, tapi tak dilihatnya gadis itu.
Tatapan sedih dari biru mata Pendeta Belanda
itu seolah – olah mengiris hatinya, Ia tidak punya cukup kekuatan untuk
bertanya, ia hanya terduduk di kursi kayu gereja mendengarkan pendeta
Vandeerhart bercerita,”Aya datang padaku dan bercerita
segalanya padaku, takku bayangkan
akan seperti ini, aku berdoa untuknya dan memintanya untuk tinggal sampai kau
datang, tapi beberapa waktu sebelum kau datang Ibunya datang menjemputnya
disini, Ibunya tak bilang akan pergi kemana, tapi mereka membawa kuda,
sepertinya untuk perjalanan jauh, aku tak bisa menahan mereka jadi kulepaskan mereka.”
Penjelasan Pendeta Belanda itu, mematahkan
hatinya, Aya belumlah tahu bahwa Ia menaruh hatinya pada gadis
itu, dan sekarang saat Ia hendak mempersuntingnya gadis itu dibawa pergi kedua
kalinya dari hidupnya.
Sepanjang hari itu dipacunya kudanya, ia
mengelilingi padang – padang sejauh yang diketahuinya, tapi padang yang kering
dan panas menelan jejak gadisnya tanpa sayang, di batas kampung mereka, ia berteriak sekeras – kerasnya, menangis sekuat
ia mampu, mengeluarkan semua lara dihatinya. Saat kembali ke
kampung didapatinya Ibunya yang marah dan menangis,malu karena pengakuannya di
kampung sebelah dan marah karena perginya Aya dan keluarganya tanpa pamit.
BAB VI
Detak
dan gerak kaki kuda membangunkannya, hari sudah terang. Matahari berkilau diatas embun, pekatnya kabut pagi membasahi
tubuhnya, rupanya kelelahan membuatnya tertidur di punggung kudanya, Ibunya dan
adiknya di atas kuda mereka masing – masing hanya memandang
kedepan tanpa suara.
“Mama, kita dimana?” Tanyanya ingin tahu
“Kita di Lewa sekarang, sedikit lagi kita
berhenti, kita akan makan dan melanjutkan perjalanan.” Jawab ibunya Nampak
lelah.
“Kita akan kemana, mama?”
“Kita akan ke Waingapu, disana ada Om Njara
yang sudah menunggu, kita akan aman disana, Jawab adiknya, nampak dewasa.
“Tidak Reku, kita
tidak akan menemui siapapun, termasuk Om mu, kita akan pergi mencari tanah barudan
hidup baru, jauh dari orang – orang yang kita kenal, Kau dan Aya harus
meninggalkan hidup lama. Ingat Pendeta belanda itu bilang, bahwa
Mori Jesus diatas sana beserta kita, kita harus mulai hidup baru, aku membawa
cukup banyak barang yang bisa ditukar, kuda inipun kita akan tukar untuk dapat
membeli tanah.” Jawab Ibunya mengagetkan mereka berdua.
“Kita berhenti disini, perintah
ibunya sambil turun dari Kuda saat melihat tanah yang rata, setelah seharian
perjalanan yang melelahkan, ini sudah di Waingapu, sepertinya ini kebun orang,
kita akan mencari siapa pemiliknya, rumah mereka pasti tidak terlalu jauh dari
sini.
“apakah itu benar, mama? Saya senang sekali,
saya ingin bersekolah mama. Pendeta bilang di
Waingapu sudah ada sekolah yang mereka dirikan, mungkin kalau mereka tidak tahu
kalau kita hanya hamba mereka akan membiarkan kita sekolah.” Serunya senang,
membayangkan bisa bersekolah, seperti cerita yang sayang
didengarnya dari pendeta Belanda mereka.
“tentu saja Aya, kau akan bersekolah kita
tidak akan pernah kembali” Kata Ibu mereka dengan tatapan tak ingin dibantah.
BAB VII
Matahari
Waingapu bersinar terik diatas kepalanya. Bau
amis ikan bercampur bau kuda menjemputnya saat ia memasuki kawasan pelabuhan yang
sudah diakrabinya selama beberapa tahun ini, tahun 1935
pelabuhan Waingapu sedang berada di pusat keramaian. Kapal
– kapal dari tanah Jawa dan dari pulau – pulau Asing datang membeli Kuda Sumba,
Menir – menir Belanda juga tak kalah banyaknya memasuki Waingapu, sudah beberapa tahun sejak Ia meninggalkan Anakalang.
Ia membawah sirih pinang di pelabuhan untuk ditukar dengan ikan dan sayur
mayur.
“Aya, apa kau bawa sirih pinang hari ini?”
Tanya Tuan Abu Bakar pemilik Kapal Ikan terbesar di pelabuhan itu.Semua
orang tahu bahwa Abu Bakar telah menaruh hati pada Aya selama ini, namun tak
ada sedikitpun tampak melihat bahwa gadis itu akan menerima
pinangan Abu Bakar.Banyak pria lain juga menyukainya tapi tak
berani mendekatinya. Mereka tahu dia bersekolah di sekolah Menir Belanda.“Ia
Abu, saya hendak menukarnya dengan ikan, saya membawa cukup banyak hari ini.”
“Oh tentu saja Aya, Kau boleh mengambil ikan
sebanyak yang kau mau.”
“Terima kasih
Abu,” ucapnya terburu – buru sambil mengambil beberapa
ekor ikan, dan membawakan beberapa kumpul sirih yang telah diikatnya
dalam daun kepada Abu, pandangan Abu menakutinya, sudah beberapa kali saat ke
pelabuhan laki – laki itu mengikutinya.Tak sedikit
Ia memberikan pemberian kepada
Ibunya, karena itu segera setelah ia menerima ikan
ia segera berlari pulang. Sore hari ia akan mengajar di Sekolah Belanda, Setelah 3 tahun ia bersekolah.
Sekolah mereka beratap alang-alang
dan berdinding papan, walaupun Menir Belanda itu sudah menyampaikan beberapa kali bahwa dia sudah
selesai sekolah dan bisa bekerja di Gereja, tapi Aya tetaplah
ke Sekolah. Sambil mendengarkan ia membantu menir Belanda itu untuk membersihkan kelas dan menaruh tikar, kadang jika
Menir berhalangan hadir dia jugalah yang akan mengajar.
Tak sedikit yang menasehatinya karena tak
juga menikah, tapi perasaannya ditutupinya sebaik mungkin.Ia
tahu membuka kenangannya hanya akan melukai hati ibu dan adiknya, banyak orang
yang menghormatinya. Ibu dan adiknyapun demikian, memperoleh
penghormatan yang sama.Dimana saja ia pergi orang – orang
memanggilnya dengan nona guru.
BAB VIII
Langit
berwarna merah saga sore itu, semerah hatinya. 5
tahun berlalu begitu cepat juga untuk bukit – bukit
Anakalang. Pohon – pohon jati yang
ditanamnya dengan tangan mudanya tumbuh tinggi perkasa ditanahnya. Anak
–anak kecil tumbuh menjadi wanita – wanita dan pria dewasa, begitu cepatnya
mereka bertumbuh, tapi dihatinya waktu berlalu sangat lamban bagi Umbu Djati, masih terasa seperti hari itu saat ia
kehilangan hatinya, Aya. Kesedihannya, kemarahannya bahkan terasa makin pekat
setiap menit, Ia sudah bukan Umbu Djati yang sama sekarang, Ia Umbu Djati pria dewasa
yang terluka.
Tahun – tahun itu begitu berat buat dia,
kehilangan Aya, Ibunya dan kepergian adiknya yang menikah dan pergi ke Kampung
yang jauh. Tak seharipun Ia berhenti mencari kekasihnya yang pergi entah
kemana, Bukit – bukit, Gunung – gunung dilewatinya, padang – padang sabana jadi
kawan akrabnya, Ia pergi kemana kaki membawanya, tapi gadis itu seperti hilang
ditelan bumi. Ia pria yang dihormati
tapi tanah dan langit tahu, betapa sering Ia
menangis ketika melihat matahari terbenam dan ternyata Ayanya, tidak muncul di
akhir hari itu. Ia selalu dengan sengaja pergi di rumah Umbu Sawola ketua suku
yang rumahnya berdiri di gerbang kampung, hanya karena berpikir mungkin Aya,
akan muncul dengan tempayan air dikepalanya seperti hari – hari biasanya, tapi
hari – hari itu tetaplah sama. Menyiksanyadengan payah.
Rambu
Katta, melihat betapa semaraknya hari itu, Umbu Djati pria yang diidam –
idamkan semua wanita di Anakalang, akan datang
kerumahnya lagi sore itu. Semua tahu Ia wanita tercantik dikampungnya,
kedatangan Umbu Djati tentulah membuat semua orang selalu bertanya – tanya,
gerangan apakah pria bangsawan tampan itu sehingga ia selalu datang dirumah
ketua suku mereka Umbu Sawola.Banyak isu berkata
bahwa ia mungkin menaruh hati pada Rambu Katta putri
satu – satunya Umbu Sawola yang sangat cantik.Mereka merupakan
pasangan serasi, semua orang menyadari itu, Umbu Djatti bukan hanya bangsawan
kaya nan rupawan tapi juga tampan dan berwibawa dan Rambu Katta pun
demikian, walau tak sekejabpun Umbu Djatti pernah memandangnya, tapi setiap
hari ia berusaha untuk tampil dengan menarik di depan Umbu Djatti.
“Ini sirih pinang Umbu,” ucapnya malu – malu
sambil mengulurkan kaleku sirihnya.
“Terima kasih
Rambu. Oh ya Rambu saya dengar bahwa di Anakalang akan didirikan sebuah Sekolah
Kristen, apakah engkau tahu itu?”
“Oh ia Umbu, saya dengar itu kemarin di
Gereja, saya senang sekali dan ingin untuk bisa bersekolah, banyak orang yang
sudah pergi untuk mendaftar tapi Pak Pendeta bilang kalau mereka hanya menerima
10 orang saja. Bapa, sudah pergi meminta pada Pak Pendeta, dan entahlah apakah
masih ada kesempatan atau tidak tapi Bapa pulang dan tidak memberi
tahu apa – apa kemarin. Saya ingin sekali bersekolah Umbu apalagi ini sekolah
pertama yang berdiri, Umbu beruntung sudah banyak mendapat ilmu dari Pak
Pendeta, tentulah Umbu tidak perlu bersekolah lagi.
“Saya juga ingin Rambu, tapi saya tidak bisa
melakukannya, peperangan dengan jepang secara
diam – diam sedang terjadi.”
“Ia Umbu.” Jawabnya sedih
“ Saya mendengar banyak yang terluka terkena
senjata dan pedang Jepun tapi saya tidak berani menengok kesana sampai hari ini
Umbu.”
“Jangan Rambu bersusah –susah karena itu,
disana sudah banyak yang membantu.” Jawabnya Iba dengan gadis itu, cantik muda
namun kesepian, ia ingat dengan Ayanya saat pergi dari Kampungnya hari itu,
sama mudanya seperti Rambu Katta. Ditatapnya gerbang
Kampung yang berdiri diam, seolah memahami isi hatinya yang sekali lagi koyak,
karena wajah itu tak juga muncul hari itu.
“Sudah hampir malam Rambu, hari mulai gelap,
saya pulang dulu, terima kasih untuk seikat sirih hari ini,
maafkan sudah mengganggu Rambu.”
“Tentu tidak Umbu, kami merasa berterima
kasih Umbu mau datang kemari.”
Matanya
menatap bahagia melihat laki – laki itu pergi, Ia berdoa semoga Umbu Djatti
dapat memahami pengharapannya, dan hari – hari remajanya yang kesepian akan
berakhir. Ia masuk sambil bernyanyi – nyanyi, saat Ia
mendengar suara teriakan yang pecah menggelegar.
BAB IX
Semua barang –
barangnya sudah hampir siap, baju dan sarungnya sudah lengkap, begitu juga
dengan buku –bukunya, Ia akan pulang ke Anakalang, semua rasa ragunya sudah
dibuangnya jauh – jauh, ia tahu bahwa Ibunya juga kuatir dengan kepergiaannya
namun dengan kebesaran hati ia melepaskan putrinya walau ia tahu apa yang akan
dihadapi oleh anaknya sesampainya disana.
“Rabbu, saya berangkat,” peluknya erat dan
berat, Ia tidak ingin menangis di depan ibunya, wajah tua itu
menyiratkan kebahagiaan sekaligus kepedihan yang menyayat hatinya.
“Ya. Mori
jesus akan selalu besertamu, ingatlah untuk pergi berkunjung ke rumah Rambu
Piras, tidaklah baik kalau mereka tahu kau ada tapi tidak datang berkunjung.
“Tapi mama”
“Mama mengerti, terserah padamu, engkau
sudah dewasa sekarang.” Ucapnya penuh kasih, saat melepas putrinya pergi
kembali ke tanah kelahiran yang sangat dirindukannya.
Perjalanannya terasa
begitu berat karena beban hatinya, semua masa lalu menyiksa hatinya selama
perjalanan.Wajah marah Umbu Djattilah yang lebih
memenuhi hati dan pikirannya. Bertahun – bertahun
Ia bermimpi tentang pria, dan hari ini ia justru akan kembali
kesana, walau sudah disiapkan hatinya selama ini, namun semakin dekat semakin
ia merasa bahwa Ia tak siap.
Ia diterima
di Pastori Gereja Waibakul, Anakalang. Walau
masih sangat sederhana namun Ia bersukacita, karena ia diterima dengan sangat
baik. Ia guru pertama di Anakalang walaupun
banyak yang tahu siapa dia, namun kedudukannya sebagai
nona guru membuatnya tetaplah dihormati.
Ia sudah selesai mengajar siang itu, sejak
sebulan kerinduannya akan Umbu Djatti sudah tak
tertahankan lagi, wajah itu datang padanya lebih seyang,
ia sudah membulatkan tekad akan kesana hari ini. Kudanya sudah disiapkan
dihalaman belakang saat seorang wanita muda berdiri di pintu pastori, tempat
tinggalnya.
“Rambu Roku?” ucapnya terkejut melihat wajah
muda yang sangat dikenalnya itu.
“Aya..” Rambu Roku maju memeluknya dengan
erat.
“Kau keman asaja
selama ini Aya? Kami semua mencarimu…” ujarnya terbata – bata sambil menangis,
membuat hati Aya remuk karena kesedihan, selama ini Ia menyangka bahwa mereka
tidak akan memperdulikannya dan keluarganya sebagai budak di keluarga
mereka.
“Bagaimana kabar Inna?”
“Dia baik – baik saja, bagaimana kabar Ibumu
dan juga Umbu Djati, Rambu?” Tanyanya menguatkan hatinya saat menyebutkan nama
Umbu Djatti.
“Mama, sudah meninggal 2
tahun yang lalu Aya, kepergian kalian sangat melukai hatinya, saya sama sekali
tidak mengerti apa yang terjadi waktu itu Aya, tapi Umbu Djatti seperti orang yang
kehilangan arah sejak hari itu, Aya. Dia begitu terluka dan marah, saya dan
mama tidak punya cukup keberanian untuk mendekatinya, bahkan sampai saat mama
pergi, mama hanya berpesan untuk mencari kalian, Aya.”
“Setelah mendengar kamu yang mengajar disini,
saya langsung datang menemui kamu. Saya ingin tahu apa yang terjadi Aya, apa
yang sebenarnya terjadi hari itu?” tanyanya ingin tahu sambil memegang tangan
Aya, yang gemetar sejak mendengar nama itu.
“Maafkan saya Rambu, saya harus pergi ke
Kampung sekarang, saya akan menceritakan
semuanya sekembalinya dari sana,” ucapnya tak sanggup lagi menahan hatinya
untuk bertemu dengan Umbu Djatti setelah mendengar cerita
Rambu Roku. Ia memacu kudanya meninggalkan Rambu Roku
yang hanya berdiri menatapnya dengan terheran - heran.
Ia tidak lagi memperdulikan apapun lagi
sekarang, status, kedudukan atau apa saja. Degup jantungnya berdetak seirama
bunyi kaki kudanya, semakin dekat dengan kampungnya, semakin Ia ingin berlari
pergi tapi hatinya berkata lain.
BAB X
Kampung itu masih sama seperti dulu, warna
coklat dari bambu tua, atap alang – alang dan tanah menyatu menerimanya
seperti dulu.Kubur – kubur sumba tua bermandi lumut,
tempat ia bermain saat masih kecil seperti sahabat lama yang ditemuinya lagi.
Hari ini akhirnya ia kembali, anak – anak kecil telanjang memandangnya dengan
tatapan lugu, seperti matanya dulu, namun pandangannya hanya terarah pada rumah
besar tua di ujung kampung itu, rumah itu masih berdiri tegap, kuat, kokoh
seperti dulu, seperti membuka tangan membuka hati menerimanya
pulang. Ia melangkahkan kaki perlahan dalam
kesunyian yang terasa begitu pekat baginya, ia bisa mendengar bunyi langkah
kakinya yang lemah di atas lantai – lantai papan.
“Nona Guru.” Sebuah suara lembut dari bawah
rumah menahan kakinya.
“Rambu Katta?” Itu suara salah satu
muridnya. Ia membalikkan tubuhnya perlahan – lahan.
“Nona Guru mencari siapa disini? Saya
melihat Nona Guru dari rumah, makanya saya lagsung kesini.”
“Saya mencari…saya mencari tuan rumah ini
Rambu, ujarnya perlahan – lahan.
“Rumah ini sudah lama tidak didiami Nona
Guru,” ujarnya dengan sopan, seperti tahu pertanyaan dalam hati Aya, kami
membersihkannya tiap hari untuk menghormati pemilik rumah ini.
“Umbu?” Tanyanya ketakutan seperti hendak mati
rasa.
“Dia tidak disini Nona Guru, dia….” Tangisan
gadis itu merobek – robek hatinya.
“Dia dimana Rambu, saya ingin menemuinya…”
Ucapnya dengan sisa kekuatan yang tersisa padanya.
“Dia pergi ke Waikabubak 2 minggu
yang lalu Nona Guru, hari saat Nona Guru datang ke Anakalang, dia terluka karena tertembak, saat
dia tahu Nona Guru datang, dia berjuang untuk bangkit dari tempat tidurnya,
itulah pertama kalinya dia mau bangun dan begitu bersemangat setelah beberapa
tahun begitu diam. Saya yang mengantarnya hari itu ke Geraja,
tapi kesakitannya membuat kami memutuskan membawanya ke Rumah
Sakit di Waikabubak, kami masih sempat melihat nona guru saat tiba di
Pastori, Ia begitu bahagia, tapi tak sempat kami bertegur sapa
karena harus membawanya ke Rumah Sakit. Ia akan sangat bahagia jika Nona Guru
mengunjunginya.’’Ujar
gadis itu menghapus air matanya.
BAB XI
Rumah Sakit itu masih baru dan begitu megahnya berdiri, dibatunya
terukir nama Rumah Sakit Lende Moripa, namun bukan itu yang menjadi perhatiannya, yang ingin ditemuinya pria
yang dicintainya dengan setulus hati, Ia sudah kembali, semua kenangan seperti berputar kembali, ketika ia mencari wajah Umbu Jati di sal yang begitu luas itu.
Tubuh
itu terbaring lemah di ranjang, dadanya nampak membiru, dan bekas perban masih
cukup banyak menutupi bekas lukanya, ia mendekat perlahan, ingin menegurnya,
namun mata pria itu tiba – tiba terbuka dan menatapnya nanar...
“Aya...kaukah itu...”teriaknya tersengal berusaha bangkit
dari tempat tidurnya.
“Ia Ubu...ini saya...”ucapannya terhenti, karena sedetik
kemudian ia sudah berada dalam pelukan pria yang sangat dicintainya itu, ia
diciumi berkali – kali...seolah – olah Umbu Jatti tidak akan pernah
melepaskannya lagi.
“Umbu, engkau masih sakit,”ucapnya tersedu sambil memeluk
Umbu Jatti, saya yang akan memelukmu, tenanglah saya akan disini, saya tidak
akan meninggalkan engkau lagi.
“Tidak Aya...saya akan mati kalau engkau meninggalkan
saya lagi.., kenapa Engkau meninggalkan saya, Engkau tidak tahu perasaan saya,
saya sangat mencintaimu, teriak Umbu Jatti sambil menangis.
“Saya juga mencintaimu, Umbu,” Ucapnya terharu. Mereka
berpelukan lama, mengeluarkan setiap lara dan kerinduan mereka bertahun – tahun
lamanya.
Aya merawati Umbu Jatti setiap jam mengajarnya selesai,
walaupun ia harus berkendara dengan kuda dari Anakalang ke Waikabubak, namun
jarak itu ditempuhnya dengan tak terasa karena cintanya kepada Umbu Jatti, Di
Rumah Sakit mereka berdua membicarakan semua hal yang selama itu tersimpan di
hati mereka.
“Aya...mari kita menikah...”Ucap Umbu Djatti tiba – tiba,
ketika Aya sedang menyuapinya, Matanya bersinar – sinar penuh pengharapan.
“Tapi..Umbu” Ucapnya ragu – ragu menunduk menghindari
tatapan yang penuh makna itu.
“Aku tahu apa yang menjadi keraguanmu, tapi sejak engkau
dibawa lari, hari itu saya sudah siap untuk melompati api sekalipun demi untuk
engkau, apalagi sekarang setelah bertahun- tahun”, ucapnya teguh sambil menatap
Aya dengan penuh kasih.
“Baiklah Umbu, saya percaya padamu...hati sayapun
demikian adanya, saya mencintaimu, dan percaya padamu.” Ucapnya terharu lalu
memeluk Umbu Jatti.
“Hanya itu yang saya perlukan Aya... hanya itu
saja...ucap Umbu Djatti bahagia.
Kehadirannya memulihkan Umbu Djatti, para dokter terheran
– heran akan pemulihan Umbu Jatti yang begitu cepat, namun juga tahu bahwa
kebahagiaannyalah juga yang mempercepat kesembuhannya.
BAB XII
Umbu dan Aya duduk di
talora rumah mereka tersenyum menatap anak – anak yang sedang bermain di halaman,semua hal buruk telah berlalu, mereka menikah di Gereja dengan pesta sederhana,
walaupun pernikahan mereka berdua belumlah cukup diterima oleh segelintir orang
di kampung mereka, tapi itu tidak menghambat mereka berdua. Ia
menengadah kelangit, bersyukur, semburat merah diatas langit Sumba seperti
tersenyum padanya. Ia akan mengabdi untuk
Sumbanya dan untuk kekasihnya. Ia tahu diatas sana
Mori Jesus mengasihinya..
Glosarium
Kalekuè Tempat sirih pinang
Belis è alat pembayaran untuk meminang perempuan
anakajakaè bale- bale di rumah panggung Sumba
taloraè halaman rumah
Rabbuè panggilan halus untuk wanitaAnakalang
0 Response to " NOVEL SEMBURAT MERAH DI ATAS SABANA SUMBA"
Post a Comment